SABTU BERSAMA BAPAK: Makna Kekeluargaan yang Terkesan Sirna

sbb-thumbnail
Sabtu Bersama Bapak (2016)

Genre: Drama | Director: Monty Tiwa | Duration: 103 minutes

Orangtua memiliki peran penting untuk membentuk karakter anak-anaknya, mengenalkan bagaimana anak tersebut menjadi individu yang mampu untuk menghadapi persoalan kehidupan, juga memberikan dorongan dan semangat melalui kasih sayang tanpa batas. Di satu sisi, orangtua juga mempunyai harapan agar bisa mendampingi anak-anaknya, melihat mereka bertumbuh dewasa sampai pada saat dimana mereka memiliki dan membina keluarga sendiri.

Namun, Gunawan (Abimana Aryasatya) harus menggugurkan harapan tersebut ketika tahu bahwa dirinya hanya memiliki masa hidup satu tahun lagi, akibat penyakit yang dideritanya. Sebagai seorang ayah dengan dua anak laki-laki – yang tentu membutuhkan sosok pemimpin keluarga, hal ini menempatkan Gunawan dalam kesedihan.

Tetapi, Gunawan memiliki cara lain bagaimana untuk tetap dapat “mendampingi” anak-anaknya, Satya dan Cakra, bahkan ketika nanti ia sudah tiada. Gunawan membuat video akan dirinya berbicara di depan kamera, merekam kata demi kata, tentang apa yang ingin disampaikan kepada anaknya saat mereka besar nanti. Pesan-pesan ini kemudian ia titipkan melalui istrinya, Itje (Ira Wibowo).

Melalui judulnya, setidaknya saya memiliki ekspektasi bahwa “Sabtu Bersama Bapak” akan menjadi film penuh emosional, dengan menunjukkan perkembangan afeksi antara Satya dan Cakra serta bapaknya, yang tertuang secara baik lewat video yang telah mereka tonton. Sayangnya, peluapan afeksi dalam film masih belum membentuk chemistry yang kental untuk hubungan antara anak-bapak. Meskipun akting Abimana Aryasatya sudah mampu menciptakan karakter seorang ayah berprinsip. Tetapi, seiring Gunawan tiada, “keberadaan” dirinya pada film juga ikut sirna, bahkan dengan video-video yang telah ia buat. Saya rasa, kekosongan ini terjadi karena Monty Tiwa yang tidak menyorot pertumbuhan Satya dan Cakra secara perlahan – sembari menganut ajaran-ajaran bapaknya, melainkan dari masa kecil yang langsung meroket menuju dewasa.

Film “Sabtu Bersama Bapak” memberikan sudut pandang dengan membagi dua kubu. Tetapi makna dari video-video yang direkam oleh sang bapak, dicurahkan dengan menyorot perjalanan hidup keluarga Satya (Arifin Putra) dan Rissa (Acha Septriasa). Saya mengapresiasi perkembangan tokoh Satya dewasa yang terjadi secara signifikan. Bagaimana ia berpegang teguh menurut ajaran ayahnya, tanpa mengindahkan esensi dari menjalani kehidupan yang terkadang membutuhkan spontanitas.

Lain halnya dari pihak Cakra (Deva Mahenra), sang sutradara seperti tidak menggarap cerita dari sudut pandang Saka seperti yang ia lakukan pada karakter Satya. Monty Tiwa hanya menjadikan cerita Cakra sebagai aspek humor pada film, dengan melibatkan Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita). Akibatnya, ajaran-ajaran dari sang bapak seperti kurang diterapkan di kehidupan Cakra, karena dirinya sibuk mencari jodoh di usianya yang sudah mencapai 30 tahun.

Meskipun begitu, Deva Mahenra memiliki akting yang jauh lebih mengalir dibanding Satya, pembawaannya lebih nyaman dilihat bahkan pada adegan dimana ia harus berakting super canggung dan gugup di depan wanita yang ia taksir, Ayu (Sheila Dara Aisha). Kehadiran tokoh Cakra telah memberikan warna dalam film yang rasanya selalu berada diambang kesedihan, karena dinamika problema karakter-karakter utama lain yang terasa intensif. Di lain pihak, intensifnya problema menjadikan penggunaan alunan biola sebagai score film yang berlebihan, sehingga aura film terasa sangat depresif.

Secara keseluruhan, “Sabtu Bersama Bapak” adalah film dengan cerita yang dibagi menjadi beberapa sudut pandang, film ini memang kurang menumpahkan emosi melalui hubungan kekeluargaan di keluarga Gunawan. Tetapi bagi saya sendiri, “Sabtu Bersama Bapak” menjadi sebuah film yang memanfaatkan para aktornya dengan baik. Tiap-tiap karakter diberikan porsi akting yang sama rata. Meskipun dengan konsekuensi, bahwa aspek filmnya hanya berada di permukaan. Monty Tiwa nampaknya perlu memutuskan apa yang hendak ditekankan dalam film, sehingga penonton memiliki sesuatu yang berkesan terhadap film ini.


If you have your own interpretation or just want to make a comment about the film or my review, kindly share your thoughts below!

Your feedback is all that I need.

Advertisements

6 thoughts on “SABTU BERSAMA BAPAK: Makna Kekeluargaan yang Terkesan Sirna

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s