GOOD TORRENT GOES BAD???

Thumbnail!

Di tengah ramainya kehidupan netizen yang sedang asik mengecam membicarakan beragam isu, lengkap dengan pengutaraan pandangan mereka masing-masing di media sosial, ada satu berita ‘tersembunyi’. Hanya segelintir orang-orang yang turut membahas di lini masa, yaitu berita mengenai tertangkapnya Artem Vaulin, penemu situs KickAssTorrents – selanjutnya disebut “KAT”.

Mengutip dari The Verge, Artem Vaulin ditangkap di Polandia, lalu dihadapkan oleh dua tuduhan pidana, yaitu tuduhan konspirasi melakukan pelanggaran hak cipta, dan tuduhan konspirasi melakukan pencucian uang. Vaulin juga didakwa bahwa ia bertanggungjawab karena telah mendistribusikan materi berhak cipta melalui situs miliknya dengan nilai total lebih dari dari $1 miliar. Kemunculan berita ini membuat situsnya down, tapi selang beberapa menit kemudian, muncul situs alternatif dengan domain yang berbeda.

Melalui situs alternatifnya, ada sesuatu yang cukup membuat saya bertanya-tanya. Sesuatu ini terpampang jelas ketika masuk ke laman utama situs tersebut, saya melihat sebuah petisi yang mendukung pembebasan Artem Vaulin.

From the site

From the site

From change.org

From change.org

Kalau dipikir-pikir, buat apa mereka mendukung Vaulin? Menuntut untuk dibebaskan pula. Bukannya apa yang dilakukan Vaulin ini tindak kriminal? Ia telah mendukung aktivitas pembajakan, dan itu ilegal. Banyak pihak yang merasa dirugikan karena orang-orang bisa mengakses materi tanpa perlu membayar sepeser pun. Padahal mereka sudah susah payah membuat materinya.

Kemudian pikiran saya bergerak mundur ke beberapa semester lalu, mengingat kembali bahwa sempat mendapatkan materi perkuliahan yang diampu oleh salah satu dosen ‘melek’ teknologi. Kala itu, beliau memberikan materi baca yang harus dipresentasikan secara berkelompok. Dari ratusan halaman yang pernah saya lihat baca, sontak ingat kalau materi tersebut juga membahas mengenai pembajakan (piracy). “Wah, sesuai nih”, batin saya.

TORRENT ITU APA?

Di era perkembangan teknologi yang sudah canggih, ternyata masih ada kaum-kaum yang belum begitu mengerti tentang torrent. Entah makna dari kata torrent itu sendiri, atau belum paham tentang cara kerjanya. Jadi, sebelum masuk ke inti pembahasan, sekilas saya akan coba menjabarkan pengertian torrent dengan bahasa sendiri.

Torrent sendiri sebenarnya adalah nama format sebuah file, dengan size sangat kecil, dan hanya dapat diakses menggunakan software client torrent seperti BitTorrent atau uTorrent. File kecil ini berisi informasi file yang ingin kita peroleh – biasanya berukuran besar seperti film, musik, software, dan bisa didapatkan dengan mengakses situs-situs khusus kumpulan torrent, salah satunya KAT.

Konsep “unduh” dengan menggunakan torrent ini dinamakan P2P, atau peer-to-peer. Jadi, untuk mendapatkan file yang diinginkan, kita mengakses komputer orang-orang yang telah memiliki file tersebut. Tapi kan, ngga sopan tuh kalau mengambil file di komputer orang tanpa sepengetahuan atau izin mereka. Disinilah, torrent bekerja sebagai “perantara” bagi kedua pihak, sehingga segala aktivitas dilakukan dengan ‘legal’ dan ‘sopan’.

Kalau mengunduh cara biasa, si pengunduh perlu mencari situs dimana ada pihak yang telah mengunggah file yang mereka inginkan. Masalahnya, tidak semua orang mau mengunggahnya. Selain malas, mungkin juga koneksi internet tidak mumpuni. Mereka yang punya file ini kurang lebih bakal berujar, “lo pada mau film ‘American Pie’ Blue-ray? Nih kami punya file-nya. Tapi ambil sendiri yak!”. Lalu torrent pun memerankan perannya. “Sinih gue hubungin komputer lo semua!”, seru torrent.

Gambaran perbandingannya seperti ini.

Gambaran perbandingannya seperti ini

‘HITAM DAN PUTIH’ TEKNOLOGI

Selama ‘menjabat’ sebagai mahasiswa sosiologi – dan masih hingga saat ini, saya mempelajari bahwa keterkaitan teknologi dan ilmu sosiologi telah dijabarkan oleh para sosiolog melalui teori dengan perspektif yang beragam. Ada teori yang menganggap bahwa teknologi adalah buah optimisme terhadap modernisasi, dan ada teori lain yang mengacu pada perasaan pesimisme, bahwa kecanggihan teknologi serta merta hanya memberikan dampak buruk di kehidupan masyarakat.

Dalam buku “Transforming Technology: A Critical Thinking Theory Revisited”, sang penulis, Feenberg, mengaitkan teknologi dengan menarik jauh ke teori kapitalisme Marx dan rasionalisme Weber. Namun, apa yang menarik perhatian saya adalah ketika ia menempatkan – dan seolah membandingkan – teori instrumental dan teori substantif.

Teori Instrumental menawarkan pandangan bahwa teknologi merupakan instrumen bersifat netral. Teknologi hanya berperan sebagai “alat” bagi penggunanya, dan tidak memiliki nilai seperti halnya lembaga hukum atau agama. Terlepas dari siapa, apa, dan dimana teknologi tersebut digunakan, ia bersifat “universal”, sehingga dapat diaplikasikan tanpa memandang konteks atau struktur di sekitarnya. Sebuah pisau tetaplah pisau, digunakan untuk memotong, terlepas dari siapa penggunanya, apa yang dipotong, dan dimana pisau tersebut digunakan. Keobjektifan yang ditawarkan oleh teori ini, disetujui oleh kalangan umum.

Kemudian, muncullah pihak-pihak yang hidup dalam pesimisme, penuh rasa curiga, membuat mereka selalu mengkritisi sesuatu yang menarik perhatian banyak. Pihak ini yang mengemukakan Teori Substantif, teori yang menolak makna “netral” dari teknologi. Bagi mereka, kehadiran dan perkembangan teknologi telah menciptakan suatu permasalahan pada kehidupan sosial. Teknologi memang menawarkan berbagai kemudahan bagi para pemakainya. Namun, masyarakat terlanjur dibuat terlena sehingga tidak sadar terhadap dampak dari teknologi yang sebenarnya cukup kasat mata. Teknologi telah “hidup bersama” di tengah-tengah kita. Keberpihakan masyarakat dengan teknologi memberikan “kuasa” yang kemudian melahirkan sebuah kebiasaan/habit baru berasaskan ketergantungan. Manusia dikuasai teknologi, dan kita juga tidak bisa hidup tanpanya.

 BUDAYA “OPEN NETWORKS”  DAN PEMBAJAKAN

Torrent merupakan “buah” dari perkembangan teknologi yang masih relevan digunakan hingga saat ini, mengutip teori instrumental, ia adalah alat, memiliki sebuah fungsi yang mampu memenuhi kebutuhan digital masyarakat modern. Terlepas dari lingkup seperti apa di sekitarnya, torrent tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Kehadiran torrent telah menindaklanjuti budaya untuk saling berbagi, yang dikenal dengan istilah “open networks” – secara harfiah artinya “jaringan terbuka”.

Keterbukaan jaringan membuka jalur untuk mengakses segala jenis informasi, yang terbentuk karena adanya proses kolaborasi antar pengguna. Keterbukaan dianggap sebagai transparansi, sehingga tidak ada lagi hal tersembunyi. Hal ini di satu sisi disebut bagian dari gerakan liberalisasi, karena fungsinya yang semakin lama memudarkan nilai “privasi”. Tetapi tentu saja, transparasi memiliki dampak tak terelakkan. Satu dari beberapa dampak terhadap keterbukaan ini termasuk topik yang sedang saya bahas, yaitu pembajakan.

Membajak /mem-ba-jak/ v. mengambil hasil ciptaan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizinnya.

Menelaah definisi di atas, di benak saya muncullah sebuah pertanyaan, “apakah kegiatan membajak itu tindakan kriminal?”.

Pembajakan memang merupakan konsekuensi dari budaya keterbukaan jaringan di dunia internet, juga budaya untuk saling berbagi. Torrent dianggap sebagai alat yang mendukung aksi pembajakan. Semua file yang didapatkan melalui torrent, bisa diperoleh dengan gratis. Padahal, file-file ini adalah hasil buah tangan milik seseorang yang untuk mendapatkan secara legal, perlu membayar sejumlah uang. Namun bagi pihak lain, torrent adalah “pahlawan” bagi kaum yang tak sanggup bila harus selalu membayar untuk dapat menikmati album-album musisi favorit, atau film-film yang diperankan oleh aktor terbaik versi seseorang. Dua pernyataan kontradiktif di atas menjadikan torrent sebagai alat yang substantif, karena telah memiliki nilai – bersamaan ia adalah ‘kriminal’, dan ‘pahlawan’.

Pada buku “In The Shades of the Commons: Towards a Culture of Open Networks”, ada surat yang ditulis secara satir oleh para peserta di seminar “Shades of the Commons”. Dalam surat ini, terdapat kalimat yang menarik perhatian saya:

“You can only steal something if it is owned by someone in the first place. If things are not ‘owned’ but only held in custody, then they can only be ‘borrowed’ as opposed to being stolen.”

Argumennya, bila melakukan pembajakan disebut sebagai tindakan “pencurian”, seharusnya barang yang dicuri juga ikut hilang. Tetapi ketika melakukan pembajakan film, apakah arsip asli film tersebut hilang? Nyatanya tidak. Para pembajak ini melainkan hanya “meminjam” film tersebut. Sehingga, pembajakan pun tidak serta merta memiliki arti sama dengan melakukan tindakan kriminal.

Untuk direnungkan

Untuk direnungkan

Saya berpendapat bahwa adanya kegiatan pembajakan mungkin berawal dari penerapan konsep “hak cipta”. Dimana sebuah karya diklaim oleh si empunya karya sehingga tidak bisa diambil oleh pihak-pihak lain secara sembarang. Secara hukum dan ekonomi, memang pembajakan bisa menjadi ancaman karena memberikan kerugian. Tetapi, saya juga tidak bisa menutup mata untuk melihat bahwa hak cipta ini menjadi “penghalang” bagi budaya “open networks”.

Lawrence Liang, mengemukakan bahwa keterbukaan jaringan adalah kunci untuk menghidupkan kreativitas. Bayangkan bila pemerintah di suatu negara, misalnya, sangat ketat menolak pembajakan terjadi di negaranya. Bukan tidak mungkin industri kreatif di negara tersebut tidak berkembang dan ‘terjebak’ hanya berkutat di situ-situ saja, akibat tidak adanya aspirasi dan sesuatu yang baru untuk dijadikan inspirasi.

Tetapi, kita juga tidak bisa mengabaikan pihak yang telah membuat suatu materi, mereka secara sukarela mengorbankan waktu, pikiran, dan semangatnya. Wajar saja bila si pembuat materi mengharapkan ‘imbalan’ dari hasil jerih payahnya, karena tidak ada yang salah dengan berjuang untuk bertahan hidup. Tetapi, bukankah Artem Vaulin juga begitu?

APAKAH VAULIN BERSALAH?

Untuk pertanyaan ini, ada baiknya bila kita serahkan ke jalur hukum, jangan sama saya. Hehe.

Bila kembali kepada pengertian torrent, apa yang saya pahami bahwa peran KAT hanya sejauh sebagai wadah untuk berbagi, KAT tidak berperan sebagai distributor langsung. Pengguna-pengguna yang terdaftar di situs KAT lah yang memiliki filenya. Saya sendiri jujur sampai saat ini tidak tahu darimana orang-orang tersebut mendapatkan film, musik, atau software tersebut. Ada ‘bandar’-nya, mungkin?

Saya tidak mengajak untuk melakukan pembajakan. Tetapi sekalipun diantara kalian ada yang melakukannya, penting juga untuk menentukan hingga batas mana dapat membajak. Membajak album-album Radiohead mungkin tidak membuat para anggota band-nya jatuh miskin, tetapi akan berbeda ketika membajak musisi-musisi lokal indie favorit yang bahkan belum punya nama. Contoh sederhananya seperti itu, sih.

Karena pada akhirnya, yang paling penting dibutuhkan bagi si pembuat materi setiap mereka menyuguhkan karya kepada penikmatnya, adalah apresiasi.

 Jadi, kalian pihak yang pro atau kontra dengan penangkapan Artem Vaulin?


Referensi:

Abraham, A., Anand, S., Becker, K., Chardronnet, E., Davis, M., Drahos, P., . . . Werbin, K. C. (2006). In The Shades of the Commons: Towards a Culture of Open Networks. Amsterdam: Waag Society.

Feenberg, A. (2002). Transforming Technology: A Critical Theory Revisited. New York: Oxford University Press.

Advertisements

One thought on “GOOD TORRENT GOES BAD???

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s