ACHIEVEMENTS UNLOCKED!

Thumbnail!

18 Juni 2016

Mari membuka paragraf pertama dengan kisah keberhasilan gue yang telah menyelesaikan satu misi: kelar menonton salah satu serial terbaik sepanjang masa, House M.D.

House GIF (5)

Iya, telat banget memang. House M.D. udah sayang tayang dari tahun 2004, dan telah selesai pada tahun 2012. Gue butuh waktu sekitar 4-5 bulan untuk menamatkan serial yang pemeran utamanya dibintangi oleh Hugh Laurie ini.

Sebagai catatan tambahan, gue tahu House M.D. dari salah satu temen. Awalnya ogah nonton karena kurang suka dengan serial Amerika yang punya banyak episode dan tamatnya lama banget. Apalagi House M.D. ini punya delapan season, tentu saja sebagai mahasiswa yang fokus dan peduli terhadap masa depan gue enggan membuang-buang waktu untuk menonton serial yang sudah kelewat lama ini, DARI AWAL.

Somehow, gue berhasil dibuat penasaran – resek emang. Ternyata, setelah menonton semua episodenya, I regret nothing.

Badge-House M.D.

Sebenarnya ada segelintir hasrat untuk bikin resensi buat House M.D., tapi langsung redup mengingat jumlah episodenya yang banyak banget. Kelihatannya sulit kalau semua episode dirangkum menjadi satu resensi. Terlebih lagi, serial ini juga sudah selesai dari empat tahun yang lalu.

Semua aspek pada House M.D. adalah apa yang membuat gue tertarik dan memutuskan untuk terus menonton. Baik dari karakter para tokohnya, dialog-dialognya yang penuh sarkasme, konsep ceritanya, bahkan totalitas kerja baik dari kru di depan layar maupun di belakang layar. Alasan lain, karena gue penggemar berat akan segala sesuatu yang berhubungan dengan problem-solving, teka-teki, dan sejenisnya.

House M.D. tidak memberikan banyak drama selipan yang bisa mengaburkan fokus konsep utama serial. Delapan season berjalan secara konsisten ke penyelesaian medis, lalu Gregory House yang persisten menjadi individu anti-sosial, sinis, namun sangat jenius. Tokoh Gregory House sendiri nyatanya terinspirasi oleh Sherlock Holmes, meskipun karakter Gregory House tidak benar-benar berkaca dari Holmes, sih. Ia juga punya beberapa karakternya sendiri.

House GIF (1)

Sebagai serial bertema medis, percakapannya sudah pasti membahas istilah-istilah kedokteran yang sangat ruwet. Pertama kali menonton lumayan sulit diikuti, tapi lama-lama terasa familiar dengan berbagai istilah tersebut. Di satu sisi, gue bersyukur ngga ambil jurusan kedokteran untuk kuliah, karena memang susah banget ilmunya.

Semua episode House M.D. gue tonton di Jogja, hingga putus di season tujuh. Gue baru bisa menyempatkan diri untuk lanjut ke season delapan ketika di rumah.

Iya, rumah. Setelah ‘menghilang’ selama sembilan bulan, gue menampakkan diri dan bertemu lagi bersama keluarga. Tentu saja, masih dengan status skripsi yang belum juga usai.

Niat awalnya ingin memegang prinsip “pantang pulang sebelum sidang”, tapi apa daya, manusia hanya bisa berencana, dan gue masih kesulitan untuk menahan godaan dari lingkaran sekitar. Sudah beberapa kali selalu melenceng dari target program skripsi yang telah ditentukan, sampai akhirnya enggan menentukan target, soalnya lelah dikasih harapan palsu sama diri sendiri.

Konsisten dan berkomitmen dengan diri sendiri itu sulit banget. Apa yang gue bayangkan adalah tujuan dan niat yang bisa berjalan beriringan tanpa memperkirakan seberapa besar hambatan serta godaan yang akan muncul. Naif, sih. Makanya ujung-ujungnya malah menyalahkan diri.

Gue pun dikalahkan oleh prinsip sendiri, dan sampai pada titik dimana kayaknya gue membutuhkan semacam dukungan emosional? moral? Supaya bisa semangat lagi. Jadi sekarang, setidaknya gue punya niat pulang ke rumah untuk meninggalkan tanah rantau sementara. Pengennya sih bisa pulang saat hari pertama puasa, sekalian menemani mi padre menjalankan ibadah puasa.

Tapi..

Screenshot

Yep, gue udah punya agenda lain. Lumayan bikin dilema juga. Sayangnya, rencana ke Kutoharjo lebih dulu dibuat daripada munculnya niat buat balik. Mau ngga mau, jadwal balik yang harus mengalah~

Sisi positifnya, agenda ini bisa gue jadikan sebagai ‘pelarian’ karena terjebak di Jogja dalam waktu yang lama, sih. Sahur pertama di Kutoharjo? Ngga apa deh, yang penting makna puasanya. Cih, basi. Lagian, gue juga bukan bagian dari umat yang wajib menjalankan puasa. Hanya sekedar ingin saja.

Singkat cerita, setelah melakukan pembicaraan lanjut di grup chat untuk mengonfirmasi siapa yang akan ikut ke Kutoharjo, ada empat orang yang kepengen gabung – dari total 10 orang anggota, dan sepakat berangkat pukul 10 pagi.

5 Juni 2016

Namun, beberapa jam sebelum keberangkatan, dua orang memutuskan untuk “mengundurkan diri”. Well, they have their own reason, though. Jadilah, hanya gue dan satu temen ini – sebut saja Firman, ditambah satu orang yang tinggal di Kutoharjo – anggap namanya Aji.

Berangkatlah kami tepat pukul 10 pagi, ngga lupa menyempatkan diri untuk sarapan, karena ini merupakan perjalanan panjang yang memakan waktu sekitar dua jam lebih. Bagi gue sendiri, sudah lama semenjak terakhir kali melakukan perjalanan jauh. Untungnya cuaca cerah, ini mungkin pertanda bahwa semesta ikut mendukung perjalanan kami.

Melewati tanjakan curam di tengah hutan sebagai jalan alternatif menuju ke sana dengan menggunakan motor matic, pegal banget emang. Tapi masih kalah sama rasa takjub gue saat melihat pemandangan sawah yang membentang luas di kanan dan kiri. Menikmati setiap detiknya di jalan, sambil sibuk mengambil gambar pakai hape. Dasar manusia modern, ketergantungan dengan teknologi seakan enggan mengabadikan momen hanya menggunakan panca indera dan memori saja.

Aji pernah cerita kalau ada satu tempat asik buat foto-foto yang selalu ia lewati tiap ke Jogja atau arah pulang ke Kutoharjo, kami sepakat untuk berhenti sejenak dan melihat seperti apa tempatnya, sekaligus foto-foto!

Padang Alang-1

Tempatnya itu hamparan yang dipenuhi tumbuhan semacam alang-alang tinggi banget, jadi suasananya ala video klip lagu akustik romantis gitu. Tapi bagi gue, lokasinya kurang bisa dieksploitasi lebih buat foto-foto dengan nuansa Instagram vibe. Selain tumbuhannya ketinggian, tempatnya juga model jurang yang ngga ada akses buat jalan-jalan mencari posisi potret yang pas.

Padang Alang-2

Puas foto-foto, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, kali ini tanpa berhenti. Hingga tiba di lokasi, dan waktu telah menunjukkan pukul dua siang.

Turun dari motor, terlihat sebuah rumah dengan teras berbentuk panggung, dilengkapi halaman yang lebarnya kira-kira cukup untuk memarkirkan satu mobil. Dibanding rumah di sekitarnya, rumah tersebut terkesan modern dan luas. Keberadaan gue dan Firman di rumah nyatanya masih menyisakan banyak ruang. Rumah ini berlantai keramik, memiliki tempat tidur spring bed, ada beberapa sofa dan kursi, bahkan kloset duduk dan pompa air, meskipun masih beratap tanpa plafon. Ini yang sering dikeluhkan Aji, karena absennya plafon bikin rumah mudah kotor, ngomong-ngomong.

Tetapi, nuansa modernnya tidak mempengaruhi suasana pedesaan yang guyub, ayam-ayam dan burung dara berkeliaran bebas, mematuk jagung di tanah sebagai santapan mereka. Yah, bayangkan saja suasana pedesaan versi kalian sendiri.

Sawah-1

Kami jalan-jalan ke belakang rumah melihat hijaunya pemandangan sawah yang luas. Suatu keistimewaan karena masih dapat merasakan pemandangan alam, di tengah kehidupan kota yang selalu berhadapan dengan asap kendaraan, serta bangunan yang saling berdempetan.

Sawah-2

Puas mengitari sawah, lanjut berkeliling kampung, mencari tahu seperti apa suasana yang dihadapi oleh Aji setiap hari. Bertegur sapa dengan penghuni sekitar, dan gue memperhatikan bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang tua dan lanjut usia. Aji adalah satu-satunya pemuda di situ.

Perjalanan singkat ternyata sanggup membuat lapar. Setelah kembali ke rumah, kami pergi ke alun-alun, membeli makan dan cemilan, sembari mengobrol untuk membuang waktu hingga adzan maghrib tiba, dan bergegas kembali ke rumah.

Tidak banyak hal yang bisa dilakukan selama di Kutoharjo, memang. Sejauh ini, gue rasa lingkungan pedesaan hanya bisa memberikan suasana bagi mereka yang hendak mengistirahatkan pikiran, atau sekedar menikmati alam. Gue sendiri ngga yakin akan bertahan bila berada di posisi Aji, menjadikan kesunyian sebagai satu-satunya teman, dan melewati malam bersama suara jangkrik dan tokek. But hey, it’s just me.

Keputusan Aji untuk pindah ke Kutoharjo memiliki alasan sendiri, dan gue ngga akan menceritakan kisahnya lebih lanjut. Lagian, kalian ngga bakal peduli juga, kan?

Setidaknya, ketersediaan wi-fi dapat menjadi pemecah kesunyian di rumah itu. Kami betiga menonton banyak video, sembari mengobrol dan bercanda ala kadarnya. Sisa hari cukup dihabiskan dengan cara yang sangat sederhana. Satu lapis atmosfir keakraban kembali terbentuk diantara kami bertiga – tapi mereka berdua masih jadi orang yang mengesalkan buat gue.

6 Juni 2016

Membuat menu yang sangat sederhana untuk sahur pertama, nasi goreng! Karena nasi goreng paling mudah dibuat dalam porsi banyak dengan waktu singkat. Selesai memasakan, diiringi rasa kantuk dan udara yang dingin, memakan masakan sendiri di satu meja sambil kembali mengobrol. Iya gue sadar, saking seringnya ngobrol sampai kehabisan topik dan mulai menjadikan suara kereta api yang terdengar hingga ke rumah sebagai bahan obrolan.

Tadinya, Firman ingin menetap di Kutoharjo sampai buka puasa, dan pulang esok harinya. Tapi dia punya agenda lain dan ngga mau terlalu capek. Dengan berat hati, gue dan Firman meninggalkan Aji (kembali) sendirian pada pukul tujuh pagi, dan sampai dengan selamat di Jogja jam sembilan lewat.

Setelah berkali-kali ditanyain “kapan ke Kutoharjo, Mel?”, akhirnya bisa terlaksana juga. Walaupun aktivitas yang dilakuin memang ngga banyak, but actually I did enjoy the trip.

Badge-Kutoharjo

Sekarang, gue siap pulang ke rumah.

11 Juni 2016

Entah kenapa gue merasa sedikit gugup. Rasanya asing setelah sekian lama ngga memegang tiket – pfft, dan gue juga harus menempuh perjalanan dari stasiun Jatinegara hingga ke stasiun Rawa Buntu sendirian, yang biasanya selalu dijemput sama mi padre. Well, of course. I’m a grown-ass woman afterall.

The Boarding Pass

Karena “Boarding Pass” terkesan lebih keren dibanding “Tiket”.

Sejauh ini, perjalanan berjalan mulus tanpa ada masalah sampai duduk di kursi kereta. Ngga disangka juga kalau dapet “bonus”, kereta yang gue tumpangi hanya terisi sepertiganya. Padahal waktu beli tiket, hanya tersisa tiga kursi. Untuk kereta kelas ekonomi, ketiadaan penumpang lain di sebelah kita itu surga banget. Apalagi kereta malam.

Sampai Jatinegara ngga ada cerita seru, sih. Gue berhasil tiba di stasiun Rawa Buntu tanpa kesasar atau berdesakan dengan penumpang KRL lain, cuacanya juga cerah. Setibanya di stasiun, mi padre menjemput, dan bisa tiba di rumah dengan selamat.

Badge-Pulang

Kemudian, gue melanjutkan nonton House M.D. season delapan keesokan harinya hingga tamat. YAY!


Disclaimer: All pictures about Kutoharjo trip were taken by Firman Yazid using his Xperia phone. The camera is awesome, by the way.

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s