SLEEP TIGHT, MARIA: Seksualitas dan Konstruksi Sosial

Sleep Tight, Maria (2015)

Sleep Tight, Maria (2015)

THIS REVIEW CONTAINS SPOILER.

Genre: Drama, Short Film | Director: Monica Vanesa Tedja | Duration: 15 minutes

Masturbasi, seakan masih dilihat sebagai hal tabu. Rasanya kurang tepat bila dijadikan topik pembicaraan di lingkungan sosial. Bagi kaum pria, mungkin tidaklah sulit. Terlebih lagi, “masturbasi” dan “pria” seolah sudah menjadi satu paket kata yang solid. Tidak mengherankan ketika ada teman atau saudara lelaki yang sengaja maupun tidak, menceritakan pengalaman masturbasinya. Justru kita malah memakluminya dan menganggap sebagai hal wajar.

Sayangnya, ini tidak berlaku bagi perempuan. Padahal, masturbasi bukanlah pengecualian sebagai cara melampiaskan hasrat seksual kaum Hawa. Seakan masyarakat menghakimi mereka yang melakukannya, berakibat menciptakan ketakutan tersendiri seperti rasa malu, minder, atau hilangnya harga diri karena ‘fantasi’ sendiri. “Sleep Tight Maria”, adalah film yang menyinggung ketakutan tersebut.

Sleep Tight Maria

Maria V, siswi SMA Perawan Maria.

Film bercerita tentang Maria V, seorang remaja Katolik berusia 17 tahun, yang memiliki sosok pria idaman bernama Donny, siswa terkenal dengan ketampanan yang sanggup membuat luluh hati para gadis di SMA Perawan Maria.

Tetapi Maria V sadar, ia tidak sanggup membuat Donny jatuh hati kepada dirinya. Ia bukanlah siswi populer, badannya gemuk dan ia pun malu akan hal itu. Perempuan malang ini bersembunyi di balik perasaannya sendiri. Maria V hanya sanggup berimajinasi untuk bisa memiliki Donny seutuhnya. Imajinasi ini lalu menciptakan ‘fantasi’ tanpa batas dari seorang perempuan yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia bermasturbasi tentang Donny.

AKU TAHU INI ADALAH DOSA

Maria V melakukan masturbasi dengan berimajinasi melakukan hubungan seksual bersama Donny. Ia menggambarkan pria idamannya tersebut sebagai pria tampan bertubuh atletis, sedikit berotot, serta tato di badannya. Nampaknya, penggambaran ini adalah wujud seorang “bad boy” versi Maria V.

Masturbasi menjadi isu sensitif bila dibawa ke ranah agama. Maria V memang mengiyakan bahwa kebiasaan yang dilakukannya adalah perbuatan dosa. Namun, hanya lewat masturbasi, ia dapat memuaskan hasrat seksualnya bersama pria yang ditaksir.

Perempuan ini juga bukan individu religius. Ia tidak mengindahkan doa ibunya sebelum makan bersama, ia tidak ikut merasakan kesedihan saat renungan malam di acara retret. Pada akhirnya, Maria V dikalahkan oleh hasrat seksualnya sendiri. Ia tetap menjalankan kegiatan masturbasinya itu.

Tetapi, Monica Vanesa Tedja, sang sutradara, menyajikan sudut pandang menarik dalam membahas kedua isu yang saling berlawanan ini. Ya, bahkan sosok sempurna seperti Maria P pun ternyata melakukan hal serupa. Seakan sifat religius hanyalah sebuah label yang tidak mempengaruhi seksualitas dalam diri individu.

Sleep Tight Maria

Maria V, gadis dengan ‘imajinasi’ yang tak terbatas.

Apa yang membedakan dari kedua karakter adalah, persepsi mereka terhadap seks, dilihat dari imajinasi yang mereka ciptakan ketika bermasturbasi. Seks bagi Maria V, merupakan hubungan yang dilakukan dengan penuh gairah. Selain itu, masturbasi ia gunakan untuk menciptakan imajinasi setinggi-tingginya. Terlihat dari semua adegan seksnya memiliki nuansa “Star Wars” – sesuatu yang ia gemari.

Sebaliknya bagi Maria P, seks adalah sesuatu yang hendaknya dilakukan secara damai dan khusyuk. Adegannya pun terasa lebih “tenang”. Ia melakukan hubungan seks di dalam gedung yang memiliki salib – cukup ambigu bila diartikan sebagai gereja, dengan penuh keheningan. Pencahayaannya juga tidak se-eksentrik adegan Maria V.

“SI GADIS SEMPURNA”

Dalam “Sleep Tight Maria”, karakter Maria V dikontraskan dengan Maria P, siswi terkenal di SMA Perawan Maria. Bagi protagonis kita, Maria P adalah sosok sempurna karena ia cantik, bertubuh langsing, pintar, dan religius. Bukan tidak mungkin bagi Maria P untuk membuat Donny jatuh hati suatu saat nanti. Prasangka yang berbuah menjadi kegelisahan bagi Maria V sendiri.

Ketika individu melihat sesuatu, ia melakukan penilaian menurut pandangannya sendiri. Penilaian tersebut terkadang memunculkan perasaan ingin menjadi setara. Namun, kesetaraan sulit tercapai jika memiliki latar belakang yang berbeda. Imitasi, adalah suatu cara dengan meniru apa yang ia lihat, sehingga individu dapat memiliki nilai yang setara seperti apa yang diinginkannya.

Sleep Tight Maria

Maria “Gadis Sempurna” P versus Maria “Basic Girl” V.

Berada dalam satu kamar dengan Maria P ternyata ‘menyalakan’ keinginan Maria V untuk menjadi setara. Ia mengenakan baju tidur yang lebih terbuka – baca: lebih seksi, karena menjadi seksi berarti lebih menarik dipandang. Maria V juga meniru cara berdandan Maria P, serta kegiatan rutinnya sebelum tidur. Imitasi yang dilakukan Maria V seolah menyiratkan makna bahwa dengan meniru, ia menjadi terlihat sama menariknya seperti Maria P.

SEBUAH KEGELISAHAN TERHADAP KONSTRUKSI

Ibu Maria V adalah wanita Katolik yang taat, perfeksionis, tidak mudah puas atas suatu pencapaian, dan memasang standar tinggi – bahkan kepada anaknya sendiri. Terlihat dari bagaimana ia memberi komentar terhadap nilai hasil ujian anaknya, lalu mengritik kelakukan putrinya yang gemar makan.

Potret karakter ibu Maria V, dan perbandingan antara Maria V dengan Maria P memberi gambaran tentang konstruksi sosial, lebih ditekankan lagi, konstruksi terhadap bentuk ideal seorang perempuan. Bagaimana seorang perempuan yang “digemari kaum Adam” adalah mereka yang bertubuh langsing, bermuka cantik, pintar, dan religius. Hal ini, seolah menjadi sebuah batasan akan “cantik atau tidaknya” diri mereka yang diukur dari penampilan fisik.

Sleep Tight Maria

Maria V, bersama sang ibunda yang perfeksionis.

Di sisi lain, konstruksi sosial yang disajikan dalam “Sleep Tight Maria” sebenarnya terkesan klise – penggambaran kesempurnaan dari fisik, dan dua tokoh dengan karakter berlawanan. Hal ini dikarenakan isu yang diangkat pun nyatanya memang tak pernah berhenti dibicarakan, selalu mengundang pro dan kontra. Pada akhirnya, mayoritas individu, baik pria atau wanita, tetap mempedulikan penampilan fisik demi menarik lawan jenisnya. Selain perbedaan persepsi terhadap seks dari kedua tokoh Maria, poin-poin yang diangkat dalam film sudah kadaluwarsa. Setidaknya, kepadatan alur dan jelasnya premis utama pada film mampu menjauhkan penonton dari kebingungan.


If you have your own interpretation or just want to make a comment about the film or my review, kindly share your thoughts below!

Your feedback is all that I need.

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s