FURY: Derasnya Emosi Di Dalam Aksi

Fury (2014)

Fury (2014)

Genre: Action, Drama, War | Director: David Ayer | Duration: 134 minutes

THIS REVIEW CONTAINS MINOR SPOILERS.

FURY IN A NUTSHELL

Fury adalah nama dari sebuah tank yang berisikan lima tentara perang – Don Collier (Brad Pitt), Boyd Swan (Shia LaBeouf), Norman Ellison (Logan Lerman), Trini Gracia (Michael Peña), dan Grady Travis (Jon Bernthal). Bagi kelima tentara ini, Fury merupakan saksi bisu dari sejarah akan pertarungan mereka melawan Nazi saat Perang Dunia II.

Fury-2

NORMAN AND HIS WAR

Pada sepertiga awal film, “Fury” menyuguhkan cerita perang dari sudut pandang salah satu tentaranya, Norman Ellison, juru ketik yang dipindahtugaskan oleh atasannya untuk menjadi tankers. Tidak terbiasa dengan kekerasan dan bunuh-membunuh, medan tempur ternyata memberi makna tersendiri bagi dirinya. Ia masih menjadi pribadi yang ‘menutup mata’ terhadap perang, dengan menganggap bahwa semua manusia – bahkan musuh sekalipun tidak pantas untuk dibunuh.

Pandangan tersebut tentu tidak bisa diterapkan dengan realita yang ada. Pertumpahan darah sudah menjadi konsekuensi dari perang, dan tidak bisa terhindarkan sampai perang usai. Karena pandangan ini, tentu Norman menjadi bahan olokan bagi para tankers. Don Collier, sersan pemimpin Fury, turun tangan untuk ‘mematikan’ perasaan iba Norman terhadap musuh.

Norman, the new warrior-hottie.

Norman, the new warrior-hottie.

“Fury” kembali memulai cerita, kali ini lengkap dengan misi yang harus dijalani. Masih merasa kaget dan penuh rasa penolakan, Norman hanya bisa pasrah mengikuti arahan. Pergelutan batin seorang Norman sebagai anggota baru nyatanya masih ada. Ia tidak yakin apakah dirinya kuat untuk ikut berperang. Ketidakyakinan ini lalu dihantarkan oleh “Fury” dengan memperlihatkan realita perang sebenarnya. Rekan sepihak banyak yang harus mati karena musuh, hingga fakta tentang kematian warga sipil Jerman yang dilakukan oleh orang Jerman sendiri. Sorotan kondisi di Jerman saat perang, memberikan sebuah keadaan yang menurut Norman, tidak bisa dipercaya. Keluguan Norman ia lepas secara perlahan, muncul pemahaman baru baginya bahwa musuh harus dibunuh, tidak memandang usia maupun jenis kelaminnya.

THE (ORIGINAL) BOYS

Fury-6

Another awesome performance by Brad Pitt.

Don “Wardaddy” Collier adalah pemimpin berwatak keras – Norman pun pada awalnya enggan dipimpin oleh orang seperti Don. Namun, dibalik kerasnya karakter seorang Don Collier, ia memiliki jiwa yang lembut. Sifat Don sebagai pemimpin tegas namun punya rasa kemanusiaan dan peduli yang tinggi, menjadikan Don sosok yang dibanggakan oleh anggota timnya.

Tokoh Boyd “Bible” Swan adalah tentara religius berkepribadian sensitif. “Fury” tidak menyorot perkembangan karakter Bible secara mendalam. Namun, kehadiran dirinya cukup penting dalam film untuk memberikan ketenangan jiwa bagi tentara yang membutuhkan.

Grady “Coon-Ass” Davis dan Trini “Gordo” Gracia mungkin adalah dua tokoh yang cukup sulit diuraikan secara mendetail. Grady memiliki sifat temperamen dan gemar membuat orang kesal. Sedangkan Gordo terkesan hadir sebagai karakter yang dibuat untuk ‘mengontraskan’ Grady. Gordo memang tidak terlalu friendly, tapi tidak lebih garang dari Don maupun Grady.

Fury-5

Dengan karakternya masing-masing, sebenarnya keempat tentara di atas memiliki chemistry yang terkesan ambigu. Mereka bisa sangat akrab karena satu hal, namun tidak jarang bertengkar hanya karena masalah sepele. Meski begitu, penuangan emosi ke dalam layar dari keempat karakter cukup kuat. Keambiguan hubungan pertemanan mereka tidak serta merta memudarkan solidaritas antar satu sama lain.

THE EMOTION IS LOUDER THAN THE WAR ITSELF

Sebagai film perang, tentu “Fury” tidaklah objektif, hal ini bisa dikarenakan sang sutradara, David Ayer, membuatnya dari perspektif negara sekutu (Amerika Serikat), dan/atau film ini adalah film yang diproduksi industri Amerika. Wajar bila Nazi digambarkan sebagai pihak yang kejam dan tidak mengenal ampun, bahkan bagi warganya sendiri yang enggan membela negaranya. Beberapa kali “Fury” memberikan portrait tentang kondisi tentara sekutu (Amerika Serikat) saat perang, seperti kegiatan di markas, atau cuplikan kondisi saat pasukan tankers menjalankan misi.

Film perang tidak mungkin dipisahkan dari aksi tembak-menembak. Segala baku tembak dalam film, cukup membuat penonton tegang dengan sensasi horor yang tergambarkan lewat kejadian di medan tempur. Secara ciamik, David Ayer juga menonjolkan emosi para tokohnya di film.

Fury-4

Ya, detail aksinya memang ditunjukkan secara utuh di depan layar – seperti tentara yang terkena tembakan headshot, atau mati karena granat. Namun, jika melihat kembali karakter Norman, ia sebenarnya menjadi kunci utama dari film ini. Meskipun akhirnya ia ‘rela’ membunuh musuh, Norman masih seorang bocah yang belum cukup tangguh. Sosok Norman sepertinya hadir untuk memunculkan kembali rasa kemanusiaan dan emosi dari tim Fury yang telah hilang termakan trauma perang. Perlu diperhatikan bahwa setiap Norman bersama dengan tim, keempat rekan seniornya akan menceritakan kisah-kisah yang berkesan bagi mereka sebagai memori dari perang yang telah berhasil mereka hadapi.

Sebagai catatan, emosi dalam “Fury” terasa cukup kuat saat film berada di sepertiga akhir.

GOING TECHNICAL

Original score untuk “Fury” rasanya perlu mendapat apresiasi tinggi. Steven Prince berhasil membuat musik yang bisa melebur bersama cerita dan gambar dengan baik. Setiap musiknya secara sempurna mewakili apa yang sedang diceritakan. Penggunaan orkestra dan paduan suara seakan menambah ketegangan pada film.

Selain dibuat terenyuh oleh musik, apiknya pengambilan sudut pandang gambar juga menambah nilai tambah untuk “Fury”. Meskipun di beberapa scene terlihat penggunaan special effect yang cukup buruk – masih dapat ditolerir.

Tidak ada kesan dipaksakan dalam penyampaian cerita, selain para tokoh utama yang mau tidak mau harus dipertahankan hingga akhir film. Sayangnya, sebagai film perang, “Fury” terlihat gagal untuk menunjukkan sifat machonya, akibat aspek emosi lebih menonjol ketimbang aksi dari perang itu sendiri. Meski begitu, sangat disayangkan karena apresiasi terhadap film ini tidak begitu besar. “Fury” adalah film perang yang lebih banyak menunjukkan sisi kemanusiaan di tengah riuhnya perang antara negara sekutu dengan Nazi.

Fury-end

David Ayer sukses mengguncang emosi penonton lewat film yang bertemakan perang. “Fury” dikemas dengan sangat fokus. Walaupun alurnya linear dan secara konstan mengambil sudut pandang negara sekutu (Amerika Serikat), tidak membuat pace cerita terasa lama. Musik, gambar, dan cerita berpadu dengan baik, menciptakan film perang epic dengan penuangan emosi dan aksi yang bergantian.


If you have your own interpretation or just want to make a comment about the film or my review, kindly share your thoughts below!

Your feedback is all that I need.

 

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s