MEMORIES OF MURDER: Adaptasi Kasus Tanpa Klise

“This looks promising..”, katanya, sembari melihat-lihat daftar film lain yang hendak ditonton. Lagipula, sudah cukup lama sejak terakhir kali ia menonton film bertemakan pembunuh berantai. Film seperti ini memang selalu menarik perhatiannya. Misterius dan tidak mudah ditebak. Kayak kamu, yang lagi baca ini.

Memories of Murder (2003)
Memories of Murder (2003)

Genre: Crime, Drama, Suspense | Director: Bong Joon-ho | Duration: 128 minutes

“Memories of Murder” merupakan film crime-drama dari Korea Selatan – selanjutnya disebut Korsel. Film ini diadaptasi dari kisah nyata, mengenai kasus pembunuhan berantai pertama di Korsel yang terjadi sekitar tahun 1986 dan 1991, berlokasi di Hwaseong, provinsi Gyeonggi. “Memories of Murder” menceritakan tentang usaha pencarian tersangka pembunuh berantai oleh detektif lokal Park Doo-man (Song Kang-ho) beserta rekannya, detektif Cho Yong-koo (Kim Roi-ha). Namun, karena tidak pernah dihadapi oleh kasus serius, menyebabkan diri mereka kewalahan. Kepolisian Hwaseong kemudian mendatangkan detektif Seo Tae-yoon (Kim Sang-kyung) dari kota Seoul untuk membantu detektif Park Doo-man.

Film ini mendapat respon positif dari para kritikus atas kepiawaian sang sutradara, Bong Joon-ho, penyajian sinematografi yang apik oleh Kim Hyung-koo, serta totalitas akting dari salah satu aktor utama yaitu Song Kang-ho. Keseluruhan plot dapat dilihat di sini.

Rasanya kayak diliatin sama dosen penguji pas lagi sidang skripsi.
Kok berasa diliatin sama dosen penguji pas lagi sidang skripsi, sih?!

“Karakter para tokohnya menarik banget.”

Detektif Park Doo-man, setengah lugu setengah konyol.
Detektif Park Doo-man, setengah lugu, setengah konyol.
"Kekerasan perlu dilakukan agar tersangka mau mengaku." (detective Cho Yong-koo's perspective in a nutshell.)
“Kekerasan itu perlu agar tersangka mau mengaku.” (Detective Cho Yong-koo in a nutshell).

Akting dari kedua aktor utama sebagai detektif patut diacungi jempol. Baik aktor Song Kang-ho maupun Kim Sang-kyung, mereka sanggup memerankan karakter sebagai seorang detektif yang berasal dari latar belakang geografis berbeda dengan baik. Detektif Park, sebagai detektif lokal dan telah lama hidup di desa digambarkan dengan sosok berwatak apa adanya, gemar berkata kasar, dan perilakunya sedikit konyol. Ia kerap menggunakan kekerasan untuk mendapatkan informasi atau pengakuan dari beberapa orang yang ia anggap sebagai tersangka. Kekerasan tersebut biasanya dilakukan oleh rekannya, detektif Cho.

Detektif Cho memiliki emosi yang mudah meledak, ia akan langsung menggunakan kekerasan bila tersangka sulit untuk berbicara. Hal ini mungkin dikarenakan pada masanya, Korsel masih ‘mentolerir’ kekerasan ala militer sebagai cara untuk ‘menekan’ pihak tertentu – sok tahu sih ini, gue ngga tahu juga.

Detektif dengan karakter yang "looks classy" dan woles.
Detektif Seo Tae-yoon, detektif perkotaan dengan karakter “looks classy” dan woles.

Berbeda dengan detektif Seo, kehidupan ibukota menjadikan dirinya pribadi berpenampilan stylish, cenderung lebih kalem terhadap situasi, namun tidak mematikan kemampuan berpikirnya yang lebih masuk akal, ketimbang detektif Park yang seringkali asal-asalan. Perbedaan cara berpikir dari kedua detektif ini tentu menghasilkan beberapa pertengkaran. Walaupun begitu, perbedaan pola pikir tidak mempengaruhi usaha mereka dalam mencari tersangka.

Perbedaan pola pikir terkadang membuat mereka adu jotos.
Perbedaan pola pikir terkadang membuat mereka jadi adu jotos.
Namun, tidak jarang mereka sependapat dan akur.
Namun, mereka perlu sependapat dan akur. Demi mendapatkan tersangka.

“Alur ceritanya lebih mementingkan proses penyelesaian akan suatu masalah.”

Alur cerita “Memories of Murder” memang menaruh fokus terhadap proses pencarian tersangka. Film ini menyuguhkan twist cerita yang mengejutkan, ditambah dengan pergelutan batin, serta totalitas para aktor dalam memerankan karakter mereka. Gue nyaris tidak melihat adanya plot hole. Walaupun saat pertengahan film terasa membosankan akibat pace cerita yang berjalan cukup lambat, karena konsistensi alur dalam menyajikan proses yang terkesan straight-forward dan tidak ada cerita sisipan sebagai bentuk perkenalan tokoh-tokohnya.

Ada satu scene yang cukup menarik perhatian gue, yaitu ketika detektif Park berada di tkp korban kedua. Scene ini diambil secara long take.

Sayang, tidak ada subtitle pada video. Intinya, Detektif Park cukup kesal saat berada di lokasi tkp, karena harus menunggu tim forensik datang – lokasi berada di pedesaan sehingga sulit dijangkau dan membutuhkan waktu lama. Akibatnya, lokasi tkp dikerubungi oleh penduduk sekitar, ditambah kehadiran para wartawan.

Kekurangan lain pada film terletak karakter si pembunuh berantai. Gue rasa, pembunuh berantai ini telah melanggar pola akan metode pembunuhannya sendiri. Semakin menuju akhir film, korban pembunuhan tidak diperlakukan seperti korban-korban awalnya. Entah keadaan ini memang disengaja, atau juga menyesuaikan dengan kasus nyatanya.

Interogasi tersangka yang sangat tense.
Interogasi tersangka yang sangat menegangkan.

“I have nothing against this movie. It’s just too perfect.”

Apart from its slow pace, and the pattern of killing itself, I really have nothing to criticize. Secara teknis pun sudah memuaskan. Bong Joon-ho sukses mengadaptasikan cerita dari kisah nyata ke dalam layar dengan sempurna. Sesekali gue merasa gugup dan cemas akan apa yang akan terjadi selanjutnya di film ini.

“Memories of Murder” seperti bercerita ‘terus terang’ kepada penonton, tidak ada alur yang terkesan klise atau dramatis secara berlebihan. Atmosfir menegangkan dijaga dengan baik sepanjang film berjalan. Film wajib tonton terutama bagi yang memiliki ketertarikan terhadap tema pembunuhan berantai atau detektif. Proses penyelidikan disuguhkan secara mantap, mengusung nuansa old-school yang terasa kental.

Industri perfilman Korsel memang tidak kalah menarik dengan perfilman negara barat. Gue merasa kagum dengan penyajian sinematografi beberapa film Korsel yang terkesan cukup artsy dan indah untuk dilihat. Pandangan gue pribadi, Korsel memang lihai dalam menciptakan film-film ber-genre thriller dan suspense. I’m sold with this movie!


If you have your own interpretation or just want to make a comment about the film or my review, kindly share your thoughts below!

Your feedback is all that I need.

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s