BATMAN V SUPERMAN: Audiences v Critics

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)

Genre: Action, Superhero | Director: Zack Snyder | Duration: 151 minutes

THIS REVIEW CONTAINS SPOILER.

Ouch!

“Rating di RottenTomatoes dikasih jelek sama kritikus?”

“Tapi penonton malah kasih rating memuaskan?”

Sejujurnya, gue cukup bertanya-tanya mengenai film ini karena, selain lagi in, memang penasaran dengan kritikus yang mengatakan “a major disappointment”, yet the audiences – mostly fans, were pleased by Snyder’s work. This, of course, brings me to…

“Jadi penasaran sih, gue nonton aja kali ya?”

***

Before I start, I review this simply as someone who enjoys movies like most people do, not as superhero geeks or someone who is following everything about superheroes on comic book, cartoon, or even serial. So, I’m not going to make some analysis related to the DC Universe, its characters, or anything about that. Just about how far this movie pleased me. Even if I did analyze the story, just remember this is purely my view about what I have watched and I have thought.

***

Jesse Eisenberg as Lex Luthor, with the boys.

 “Film superhero yang emang bernuansa ‘dark’ banget.”

YES. Pernyataan ini gue setuju. Dari cerita awal maupun secara konsep keseluruhan, Snyder sudah memberikan gambaran akan ‘gelapnya’ tujuan utama dari kedua karakter – ambisi untuk membunuh. Tidak dipungkiri, nuansa film secara visual maupun cerita sangat dark, sifat kedua karakter utama juga menonjolkan rasa kebencian yang amat dalam. Ditambah lagi dengan Lex Luthor juga mau menghabisi Superman. Sebenarnya memang kurang adil, karena yang menyerang Superman ini ada dua. Ngga apa, kamu kuat kok Superman, makanya banyak yang menyerang kamu.

Handsome Guy No. 1: Henry Cavill as Superman/Clark Kent

Sejak awal film pun, nuansa ‘gelap’ tersebut telah ditunjukkan melalui visual seperti tone gambar, dan musiknya. Menambahkan poin untuk opening credit scene pada “Batman v Superman” yang keren banget – setidaknya bikin penonton memiliki ekspetasi tinggi terhadap film. Tidak lupa dengan akting para pemain, pengeditan dilakukan dengan sangat baik, koreografi baku hantam juga terlihat apik, meskipun tingkat kesadisan jauh melampaui film Snyder yang lain, “300” misalnya.

Ada yang bilang bahwa Snyder dikenal sebagai sutradara yang memanjakan mata dan telinga para penonton lewat karyanya. Gue sebagai orang awam tentang hal-hal teknis di film pun merasa kagum banget dari awal film dimulai, terutama dari sisi sinematografi. Soundtrack oleh Hans Zimmer benar-benar melebur dengan baik bersama visualnya, dan sungguh menyentuh emosi. Durasi film yang memakan waktu hingga dua setengah jam tidak terasa begitu lama, nampaknya Snyder beserta timnya bisa membuat penonton duduk ‘anteng’ dengan menyuguhkan visual yang apik. Sekalipun lo menonton hanya karena film ini lagi heboh – sehingga tidak mempedulikan alur.

“Uhm.. Tapi, ini story telling-nya gimana sih sebenarnya?”

Handsome Guy No. 2: Ben Affleck as Batman/Bruce Wayne

Kekurangan utama dari “Batman v Superman”, storytelling atau plot yang sangat.. sangat.. KACAU. Gue bahkan perlu membangun ulang cerita agar lebih paham permasalahan apa yang sebenarnya terjadi di film ini, setidaknya dengan lebih rinci. Chris Terrio dan David S. Goyer, sebagai penulis script, tidak bisa menyusun potongan-potongan cerita dari sisi Batman/Bruce Wayne dan Superman/Clark Kent untuk terus konsisten mengikuti alur cerita hingga menuju inti permasalahan. Potongan-potongan cerita seharusnya menjadi pondasi yang kuat, atau dengan kata lain, mudah dimengerti. Nyatanya, hal ini tidak terjadi di “Batman v Superman”. Sehingga, alur terkesan ngalor-ngidul (tidak jelas arahnya).

Iya, jadi nama ibunda mereka itu sama-sama Martha. What a coincidence! Sepositif mungkin, gue menganggap Batman yang tiba-tiba berubah pikiran ketika mengetahui Martha juga adalah nama dari emak angkat Superman ini, mungkin karena ia tidak ingin melihat ada Martha-Martha lain harus mati. Waktu Martha Wayne dibunuh, kan Bruce Wayne masih kecil, dia helpless. Sekarang, Batman sudah besar dan bisa membasmi kejahatan, makanya ia ingin menggunakan kemampuannya, setidaknya untuk menyelamatkan Martha-nya Superman. Mungkin bisa dikatakan sebagai ‘penebusan dosa’. There.. I’m being optimistic as I can. Meskipun terkesan klise dan twist-nya tidak memuaskan.

“Please dengerin aku dulu, Bat..”

“Now, let’s talk about other characters..”

Kehadiran Lex Luthor bisa dibilang penting. Dirinya lah yang membuat Batman dan Superman ‘damai’ – dengan sedikit campur tangannya Lois Lane. Ketika mengetahui rencananya tidak sesuai ekspetasi, setidaknya Luthor sudah menyiapkan rencana cadangan, Doomsday. Disinilah atmosfir “Dawn of Justice” mulai terasa. Hanya saja, Lex Luthor kurang menunjukkan sisi psikopatnya. Padahal, ia karakter yang memiliki potensi, hanya kurang dimanfaatkan dengan baik oleh kedua screenwriter.

Gal Gadot, as Independ.. I mean, Wonder Woman/Diana Prince

Kemunculan Wonder Woman/Diana Prince di film yang secara tiba-tiba tanpa latar belakang jelas, gue anggap itu hanya sebagai pengantar untuk film solonya nanti. Tapi, perlu diakui bahwa aksi dia keren, seketika membuat Batman dan Superman jadi ngga ada apa-apanya. Feminist would love her character. What? Too soon?

Ada yang bilang bahwa keterlibatan Wonder Woman/Diana Prince ‘menyelamatkan’ film. Kurang setuju, sih. Selain membantu Batman dan Superman menyerang Doomsday, peran dia tidak begitu jelas di film ini. Screening time-nya saja cuma sebentar.

Satu-satunya karakter yang bikin gue geregetan, Lois Lane. Awalnya, keterlibatannya di film ini cukup cerdas dalam memanfaatkan sifat ambisiusnya sebagai seorang jurnalis. Hingga ia terlibat dalam konflik kekasihnya dengan Batman. Entah sadar atau tidak, sifat Lois Lane yang suka ikut campur ini seringkali membawa dirinya menuju bahaya. Ketika Lane berada dalam bahaya, Superman tentu akan langsung menolong. Permasalahannya, Superman punya kepentingan lain yang harus diselesaikan. Disini gue merasa kehadiran Lane cukup mengganggu, belum lagi dengan kecerobohan Lane saat membuang senjata Kryptonite yang dibuat oleh Batman, padahal senjata tersebut dibutuhkan untuk memusnahkan Doomsday. Superman pun harus mengorbankan dirinya karena ulah kekasihnya sendiri.

Amy Adams as Lois Lane, Clark Kent’s troublesome girlfriend

Entah karakter Lois Lane di komik atau kartun memang seperti itu, atau lagi-lagi Chris Terrio dan David S. Goyer tidak memanfaatkan karakter dengan baik. Sehingga penonton memiliki interpretasi berbeda antara karakter pada film dengan karakter asli di komik.

“Jadi, memutuskan untuk berpihak kemana?”

Film “Batman v Superman” sesungguhnya tidak benar-benar buruk seperti apa yang kebanyakan kritikus bilang. Setidaknya, gue ingin mengapresiasi Snyder dan tim karena berhasil menciptakan film yang secara teknis sangat memuaskan. Meskipun, yah, alur cerita buruk dan penyampaian cerita juga sulit dimengerti bagi para penonton awam. Di sisi lain, gue pribadi juga tidak memiliki masalah dengan film yang ceritanya “humorless”, again, like most critics said.

Thanks to Firman Yazid, who helped me to understand the plot when I’m lost.

If you have your own interpretation or just want to make a comment about the film or my review, kindly share your thoughts below!

Your feedback is all that I need.

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s