Review Buku: DREAMS COME TRUE

dreamsct

Dreams Come True by Delvirah Sabatini

Author: Delvirah Sabatini | Pages: 296 | Publisher: GagasMedia

Masa lalu memang bisa mengubah seseorang menjadi pribadi yang berbeda. Tidak banyak orang yang bisa dengan mudah bangkit dan melepas kenangan pahit maupun manis dalam kehidupannya, tak terkecuali Vero dan Brenda. Kedua kakak-beradik ini memang memiliki hubungan saudara yang cukup buruk. Kenangan di masa lalu, nampaknya merupakan faktor utama atas tali persaudaraan mereka yang tidak terjalin dengan indah. Bahkan hingga sampai saat ini dimana Vero tengah menduduki semester akhir perkuliahan, dan Brenda yang akan segera wisuda dari pendidikan menengah atasnya.

Sebagai syarat kelulusan, mahasiswa diwajibkan untuk membuat tugas akhir, atau lebih dikenal dengan panggilan skripsi. Namun, seperti yang dialami oleh kebanyakan mahasiswa – termasuk penulis sendiri, membuat skripsi tidaklah mudah. Butuh suatu “sentilan” agar inspirasi dapat muncul sehingga skripsi pun bisa segera dikerjakan. Setidaknya itulah harapan Vero selagi ia magang di Jakarta Minute.

Brenda, memiliki sahabat dekat – dekat sekali dengan seorang gadis bernama Lisa. Mereka hampir tidak dapat dipisahkan, dan selalu ada bagi satu sama lain. Mungkin kehidupan asrama yang membuat mereka dekat layaknya saudara kandung. Brenda menaruh kepercayaan yang lebih besar kepada Lisa dibanding saudari kandungnya sendiri, Vero.

Musim Piala Dunia 2014 sebentar lagi akan dimulai, hal ini tentu merupakan momen yang wajib diikuti bagi para pecinta sepakbola di seluruh dunia, tidak terkecuali bagi Brenda dan Lisa. Sayangnya, sepakbola bukanlah hal yang bisa dinikmati oleh Vero. Ada sesuatu yang tidak biasa bila membahas sesuatu berbau sepakbola.

Namun, sesuatu luar biasa terjadi disini. Vero diajak oleh pamannya – yang seorang pemilik Jakarta Minute, untuk meliput pertandingan Piala Dunia 2014 langsung di lokasi utama, Brazil. Sedangkan Brenda dan Lisa dihadiahi tiket ke Brazil, lantaran saudaranya yang menang undian untuk menyaksikan Piala Dunia tetapi berhalangan karena ada urusan lain. Akhirnya tiket tersebut dipindahtangankan pada kedua gadis penggila sepakbola tersebut.

Memiliki tujuan yang sama, bukan tidak mungkin pada satu titik kedua kakak beradik ini akan bertemu dan menatap muka satu sama lain. Mengingat buruknya hubungan antara Vero dan Brenda, bagaimana mereka menghadapi situasi tersebut? Vero pun mau tidak mau juga diharuskan untuk kembali membuka kenangan pahit yang mustahil ia bisa lupakan. Sebuah kenangan yang membuat dirinya dan Brenda berada dalam hubungan saudara yang saat ini dirasakan.

♦♦♦

Dreams Come True, sebuah novel yang ditulis oleh salah satu rekan penulis, Delvirah Sabatini, atau lebih akrab disapa Dhee. Ia memang seseorang yang sangat cinta akan olahraga sepakbola, terutama timnas Spanyol dan kiper Iker Casillas. Atas kecintaan terhadap sepakbola inilah, kemudian lahir novel ini.

Walaupun penulis sendiri bukan pribadi yang sangat menikmati buku, tetapi Dreams Come True memiliki keunikannya tersendiri. Novel ini memberikan dua sudut pandang dari dua karakter utama, Vero dan Brenda. Sehingga pembaca seakan diajak untuk menciptakan alur dari pikiran kakak dan adik ini. Hebatnya, Dhee bisa menggiring pembaca pemula seperti penulis, untuk menciptakan pandangan tersebut tanpa ada kesulitan.

Berbicara dari segi alur, bisa dikatakan 75% isi cerita Dreams Come True sangat kental dengan unsur sepakbola – mengingat novelis yang sangat gemar sepakbola. Dampaknya, novel ini memang agak sukar dimengerti bagi pembaca yang kurang atau tidak memiliki minat terhadap sepakbola. Apalagi di dalam cerita novel mengambil latar waktu pelaksanaan Piala Dunia.

Memang tidak mudah membuat novel yang memunculkan karakter dari negara berbeda, setidaknya seorang penulis perlu melakukan kajian terlebih dahulu agar bisa menggunakan budaya dan bahasa dari suatu negara dengan tepat. Tetapi bagi Dhee, seorang novelis awam, bisa mengatasi hal tersebut. Dreams Come True tidak menghalangi karakter Vero dan Brenda untuk memiliki teman yang berasal dari negara lain.

Pertanyaan yang ada dalam novel secara satu persatu mulai terjawab seiring berjalannya alur. Namun, amat disayangkan karena jawaban kurang tergali lebih dalam, sehingga terkesan bahwa novel ini memiliki akhir cerita yang nanggung.

Secara keseluruhan, novel Dreams Come True memiliki warnanya tersendiri, penulis bisa merasakan imajinasi tak terbatas dimiliki oleh seorang Dhee. Meskipun merupakan novel pertama, Dreams Come True tidak mempunyai alur pasaran dan mudah ditebak. Pembaca seakan dibawa hanyut dalam alur cerita.

Personally, I do enjoy reading it, and you should too! Go show some love for “Dreams Come True” and let her know if you like it.☺

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s