BIRDMAN (The Unexpected Virtue of Ignorance): A Review

Birdman (2014)

Birdman (2014)

Genre: Black Comedy, Drama | Director: Alejandro González Iñárritu | Duration: 119 minutes

Setiap manusia tentu pernah merasakan titik balik dalam kehidupannya, sayangnya titik balik tersebut tidak selalu berjalan menuju kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut yang dirasakan oleh Riggan Thomson (Michael Keaton), seorang aktor tenar berkat akting di film Birdman, film bertemakan superhero dengan sosok burung. Akting Riggan pada film tersebut menjadikan dirinya salah satu bagian dari banyak aktor terkenal di Hollywood. Namun, semua itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Ia kembali menjadi sosok yang “bukan siapa-siapa”.

Bertambahnya usia Riggan dan era Birdman yang telah tergantikan oleh film-film superhero lain, membuat dirinya serasa perlu untuk tetap terus berkarir sebagai aktor. Riggan sadar ia memiliki hasrat tinggi terhadap dunia akting, dan umur tua pun tidak menjadi penghalang baginya untuk terus berkarir. Pemikiran ini yang membuat dirinya memutuskan masuk ke panggung Broadway – atau apa yang dikenal sebagai panggung Teater Musikal.

bird-6

Michael Keaton as Riggan Thomson

Keputusannya memang cukup berlawanan apabila mengingat karirnya di masa lalu – seorang aktor film Hollywood. Ditambah, tidak semua orang bisa menikmati panggung Broadway. Mau tidak mau ia harus menanggalkan karakter Birdman dalam dirinya, dan hal tersebut tidaklah mudah.

Riggan mengadaptasi cerpen “What We Talk About When We Talk About Love” milik Raymond Carver untuk dipentaskan di atas panggung Broadway. Riggan sendiri yang menjadi sutradara, penulis, serta aktor utama untuk pementasan tersebut. Namun, masalah pun muncul, ia masih belum menemukan lawan main yang sempurna. Ia merasa bahwa Ralph (Jeremy Shamos), memiliki akting yang berlebihan sehingga perlu digantikan. Akhirnya, Ralph memilih Mike Shiner (Edward Norton) dengan harapan bisa memberikan “nafas baru” bagi Riggan maupun pementasan Broadway itu sendiri.

bird-4

Edward Norton as Mike Shiner

Sayangnya, pergantian aktor ternyata tidak membuat keadaan lebih baik, Riggan dihadapi berbagai masalah yang muncul baik di luar maupun di dalam kehidupan panggung Broadway. Keadaan tersebut menjadikan dirinya mau tidak mau mengambil keputusan. Ditambah lagi Riggan juga mengalami konflik batin dengan dirinya sendiri.

Karakter seorang Riggan Thomson yang paling menonjol adalah jiwa ambisiusnya, bagaimana ia mengontrol semua pergelaran mulai dari menjadi sutradara, penulis, sekaligus aktor utama. Hal ini menjadikan Riggan punya ego tinggi, perfeksionis, mudah tertekan dan takut akan kritik – alasan mengapa ia tidak memiliki media sosial, padahal Birdman mengambil latar waktu di masa kini. Riggan adalah sosok pemimpin sekaligus ayah bagi Sam Thomson (Emma Stone), tidak heran bila ia mengemban banyak tanggung jawab.

bird-3

Sosok Riggan adalah pribadi dengan emosi yang mudah terombang-ambing. Ia mengontrol pementasan Broadway ketika berada di belakang panggung – menjadi sutradara, dilengkapi dengan pasang-surutnya konflik dan kejadian-kejadian yang tak terhindarkan. Namun di saat yang bersamaan ia juga perlu menjaga profesionalitas peran yang dimainkannya di depan panggung – ketika menjadi aktor. Sehingga konflik pun tidak boleh mengacaukan aktingnya.

“Birdman” adalah film drama perspektif dengan esensi black-comedy, sehingga hal yang menarik adalah penonton dapat melakukan interpretasi dengan pandangan yang berbeda-beda dari awal hingga akhir cerita. Selain itu, film ini memiliki konsep yang tidak jauh berbeda dari dunia akting di kehidupan nyata, konsep ini lalu melahirkan karakter Mike Shiner.

bird-2

Selain karakter Riggan Thomson, penulis juga mengamati “kekuatan” Riggan yaitu levitasi dan telekinesis, dideskripsikan sebagai emosi seorang Riggan. “Kekuatan” tersebut terjadi bila ia hanya seorang diri.

Berkali-kali dalam alur cerita terdengar suara milik Birdman yang mengajak Riggan untuk keluar dari panggung Broadway dan mulai memainkan peran sebagai Birdman lagi. Jauh di dalam diri Riggan, walaupun ia memasuki panggung teater karena dedikasinya akan seni, ia tetaplah manusia biasa yang haus akan kepopuleran dan uang. Sehingga, percakapan Birdman dengan Riggan menggambarkan perdebatan dalam diri manusia.

Dalam catatan penulis, Alejandro berhasil menjadikan “Birdman” sebagai film yang sarat dengan nilai sosial dengan menggambarkan kehidupan manusia secara umum. Bagaimana kita memilih untuk mengikuti minat atau bersandar kepada harta, mengenai perdebatan yang terjadi dengan diri kita sendiri, serta berbagai konflik dalam kehidupan dan seperti apa cara kita untuk mengatasi konflik tersebut.

Disclaimer: All pictures used in this review were taken from IMDb.


What do you think about “Birdman”? Share your thoughts below!

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s