“그 남자”

“I know he is the best one for me.”

Ketika kita merasa yakin akan sesuatu yang kita impikan, yang ingin kita capai dan raih, disitu kita juga akan meyakinkan orang-orang di sekitar bahwa sesuatu tersebut adalah yang terbaik. Kita akan memberikan penjelasan secara mendetail tentang apa yang kita ketahui, serta tidak lupa untuk menyiapkan argumen dan alasan bagi mereka yang dianggap tidak sepemikiran.

Begitu juga aku.

Tidak peduli bila dibilang naif. Beberapa dari mereka selalu menjadi tempat ‘pembuangan’ akan cerita-cerita mengenai dirinya. Mungkin mereka bosan, tapi tampaknya aku tidak mengindahkan hal itu. Dunia harus bersikap adil, mereka bisa saja menceritakan hal menarik tentang kehidupannya dan aku pun tentu tidak mau kalah. Kuceritakan bagaimana kehidupanku di luar perkuliahan, kisah-kisah menarik yang terjadi selama ketidakhadiran mereka. Tidak terkecuali, tentang dirinya.

Sampai akhirnya mereka menangkap sesuatu yang berbeda pada diriku, tentang apa yang selama ini aku ceritakan. Kemudian, mereka mengajukan satu pertanyaan yang mau tidak mau harus aku jawab dengan,

“Yes, that’s right.”

Sebenarnya, aku bisa saja mengelak dan mengatakan jawaban lain untuk pertanyaan tersebut. Untungnya, hanya sedikit dari mereka yang mengajukan dan terlebih karena mereka semua adalah terbaik dari yang terbaik. Jadi, rasanya tidak perlu berbohong mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadapku.

Memang indah rasanya bila sedang dilanda asmara, kau akan menjalani hari-hari dengan semangat, punya aura berbeda, terlebih jika semua itu dikarenakan oleh seseorang. Apalagi waktu itu masih memasuki tahun-tahun pertama, aku hanya bisa membayangkan kemungkinan-kemungkinan baik sampai lupa kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Terkadang, kita memang perlu untuk hidup dengan kedua hal tersebut agar tahu langkah seperti apa yang perlu diambil.

“I think I need to do something.”

Dibutakan oleh perasaan, membuatku terjebak dalam dirinya selama dua tahun.

Ya, dua tahun.

Lebih lama dari keseluruhan waktu yang kuhabiskan dengan orang-orang yang dulu aku kasihi. Dua tahun, setidaknya dalam rata-rata, perempuan bisa tertarik dengan empat hingga enam pria berbeda. Aku rela ‘membuang’ yang lain hanya demi mempertahankan dirinya, lalu mengatakan dalam hati,

“Because this is definitely worth it.”

Merasa bosan dan kehilangan arah, aku pun bertanya pada diri sendiri. Karena aku tidak mau bila kemalangan sepihak terus terjadi padaku. 

“We’re close friend.”

Yah, pernyataan diatas cukup menggarisbesarkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengelilingi pikiranku dalam dua tahun. Tidak ada rasa penyesalan, setidaknya telah mengetahui sesuatu yang baru. Sayangnya, ada bagian kecil dalam diri menolak pernyataan tersebut. Hingga tak sadar, air pun menetes jatuh membasahi pipi gadis malang ini. Seketika menjadi malu dan membodoh-bodohi diri sendiri.. Aku menyalahkan diriku, berada dalam ketidakberdayaan namun tetap berusaha untuk menjalani kehidupan seperti biasa dengan dirinya.

Merefleksikan diri selama beberapa hari, kemudian sampai pada satu titik bahwa aku memang terlanjur ‘hidup’ di dekat dirinya dan para sahabatnya, menghabiskan sebagian besar waktu bersama mereka, sampai tidak sadar ikut terseret masuk dalam lingkaran pertemanannya. Aku pun nampaknya juga salah mengartikan kebaikan akan dirinya sebagai wujud ketertarikan dirinya terhadapku.

“Naif sekali”, ejekku.

Seiring waktu berjalan pasca momen itu terjadi, perasaan terhadap dirinya juga semakin memudar. Refleksi diri berbuah menjadi pikiran bahwa aku takut untuk mengasihi kembali – dengan yang lain. Ingin rasanya menjadi pihak yang dikasihi. Ingin agar mereka merasakan apa yang aku rasakan, tentang perjuangan dan ketidakpastian. Dibutakan oleh perasaan.

“So, what now?”

Sadar tidak bisa melakukan apa-apa lagi, aku tetap ada sebagai bagian dari dirinya – dengan perspektif yang berbeda. Bahkan, hingga aku duduk di kursi dan mengetik sebuah cerita akan dirinya. Saat ini.

You can’t insist someone to like you if they have no interest in you.

Tampaknya, momen tersebut tidak menghalangi kami untuk tetap bercengkrama satu sama lain. Tidak ada yang mengungkit, layaknya angin lalu – dan aku rasa memang tidak perlu.

Apabila kau menemukanku bersama dengan dirinya, kau akan melihat diriku yang masih bisa tersenyum dan tertawa tepat di hadapannya. Dan kau mungkin bertanya-tanya, apakah aku sudah bangkit kembali dan menemukan pria lain? Setelah dua tahun berjuang agar bisa bersama dirinya tapi hasilnya nihil?

Tidak, cinta tidak sebercanda itu. Dua tahun adalah waktu yang cukup lama. Aku memang sudah bangkit, tetapi bukan untuk melupakan dirinya secara utuh. Dirinya tetap menjadi salah satu bagian penting sebagai pembelajaran akan usahaku untuk menggapai sesuatu. Yah, walaupun terkadang dalam keseharian, dirinya bisa menjadi sangat menyebalkan.

Aku juga tidak menganggap bahwa perjuanganku hasilnya nihil. Ketika kau melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan namun gagal, pasti akan ada nilai yang terkandung dalam usaha tersebut, baik sadar maupun tidak. Karena hidup memang penuh nilai dan arti.

Manis dan pahit, dua rasa berbeda yang akan terus terasa di dalam kehidupan. Kita tidak menganggap sesuatu itu manis bila belum merasakan pahit terlebih dahulu. Menilai, ini adalah sebuah pengalaman yang cukup manis untuk dimasukkan ke dalam kisah hidupku, lengkap dengan berbagai kepahitan yang juga aku rasakan karena dirinya. Setidaknya, perasaanku terhadapnya kini berkembang menjadi satu tingkat lebih baik – menurutku.

“My fondness towards him that can make me to punch any girls who break his heart, yet loathe him for his kindness – knowing about what he already did to me.”

Yeah, that kind of feeling.

Thank you for putting a bittersweet part in my life story.

Advertisements