THE GREAT DICTATOR: A Review

 

The Great Dictator (1940)
The Great Dictator (1940)

Genre: Comedy, Politic | Director: Charlie Chaplin | Duration: 124 minutes

CAUTION! SPOILER ALERT!

Salah satu dari beberapa film kontroversial yang diperankan dan disutradarai oleh Charlie Chaplin, “The Great Dictator”, film komedi satir pada tahun 1940. Charlie Chaplin memerankan dua tokoh utama dalam film ini yaitu sebagai “A Jewish Barber”, atau tukang cukur Yahudi dan “Adenoid Hynkel”, seorang diktator kejam dan selalu menyiksa orang Yahudi. Sedikit menceritakan latar belakangnya, film ini memberikan situasi pada jaman perang dunia. Lalu, mengapa film ini dibilang kontroversial?

tgd-1

Perilaku kejam dari Adenoid Hynkel terhadap rakyat Yahudi dapat dibilang mirip dengan diktator asal Jerman, Adolf Hitler. Karakter dan peran yang dilakukan Charlie Chaplin saat menjadi Adenoid Hynkel mirip dengan Adolf Hitler dimana ia sangat ingin menguasai dunia dan menindas kaum Yahudi di daerah kepemimpinannya. Pidato Chaplin sebagai “A Jewish Barber”, juga mendukung alasan kontroversialnya film ini. Salah satu kalimatnya yang sangat menyindir Hitler, Nazi, dan hal serupa lainnya yaitu, machine men, with machine minds and machine hearts.

Apa yang menjadi perhatian untuk melakukan review terhadap film ini adalah pesan yang ingin disampaikan oleh sang sutradara, Charlie Chaplin, kepada penontonnya. Film ini memberikan pesan moral bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk tinggal dan melangsungkan kehidupannya, serta tidak mengenal adanya diskriminasi karena perbedaan itu seharusnya menyatukan bukan memisahkan. Warga Yahudi harus merasakan penderitaan tempat dimana mereka tinggal dan diperlakukan secara semena-mena oleh aparat, yang seharusnya menjaga warga agar setiap warga merasa aman namun tidak bisa karena pemimpinnya memiliki karakter anti-Yahudi. Selain mempengaruhi aparat, Adenoid Hynkel juga mengeluarkan satu orang kepercayaannya yang berasal dari kaum Yahudi.

tgd-5

Menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah tanggung jawab yang cukup besar karena harus menyelesaikan masalah secara netral serta seimbang atau tidak berpihak satu sisi, dan hal tersebut tidaklah mudah. Manusia pada dasarnya tidak akan pernah puas atas apa yang telah diraihnya. Meskipun sudah menduduki pangkat tertinggi dalam suatu negara, diktator Adenoid Hynkel semakin tergoda untuk menguasai dunia dalam genggamannya, menjadikan kaum Yahudi ditindas dan diperlakukan semena-mena. Perbuatan tidak manusiawi dalam alur film ini merupakan sebuah pesan dari Charlie Chaplin kepada setiap manusia bahwa pemimpin seperti Adenoid Hynkel bukanlah seorang pemimpin yang baik.

Seorang tukang cukur Yahudi tentu memiliki kisah romantismenya sendiri. Tukang cukur ini sepertinya jatuh hati dengan seorang wanita asal Yahudi bernama Hannah yang berani melakukan perlawanan terhadap sikap semena-mena dari aparat kepada masyarakat. Mungkin Chaplin, sebagai sang sutradara, memang ingin menunjukkan bahwa sosok wanita sebenarnya tidak lemah. Hannah merupakan sosok wanita pemberani, menginginkan dan memimpikan keadilan dimana ia tinggal. Bukan sebagai kaum Yahudi tetapi sebagai masyarakat yang dianggap setara dengan yang lainnya.

tgd-4

Film ini berakhir dengan bahagia, tukang cukur Yahudi dan orang kepercayaan Adenoid Hynkel, berhasil kabur dari penjara. Malang nasib sang diktator tertangkap oleh prajuritnya sendiri karena kesalahpahaman. Tiba saatnya untuk mendengarkan pidato fenomenal dari tukang cukur Yahudi yang diucapkan dengan penuh semangat. Perlu keberanian besar untuk mengungkapkan apa yang selama ini menjadi ganjalan hati si tukang cukur Yahudi bahwa ia tidak bisa hidup bebas di tempat ia tinggal. Pada momen ini semua rakyat yang mendengar pidato si tukang cukur Yahudi merasa ‘suara’-nya telah disampaikan seutuhnya dalam pidato tersebut.

Sebuah film dengan durasi dua jam lebih lima menit ini ternyata cukup banyak menyimpan berbagai sisi sosial yang dapat dijadikan pesan moral. Film ini membuka banyak mata para penontonnya, terutama bagi kaum tertindas dan menginginkan keadilan di tempat mereka berada. Charlie Chaplin tidak hanya mengemas film “The Great Dictator” dengan cerdas dan menarik, namun juga memberikan komedi segar yang masih dapat dinikmati bahkan hingga saat ini.

Disclaimer: All pictures used in this review were taken from IMDb.


What do you think about “The Great Dictator”? Share your thoughts below!

Advertisements

SHARE YOUR THOUGHTS!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s